Sabtu, 25 Maret 2017

METODELOGI PENELITIAN
“PKL” SEBUAH TUNTUTAN ATAU PILIHAN










DOSEN PEMBIMBING
Dr. AZHAR SYAH. SE. A.K. M. SOM

PENELITI
MAHYUDIN



UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRYFAKULTAS EKONOMI BISNIS ISLAMPERBANKAN SYARIAH

BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian pedagang kaki lima
            Pedagang kaki lima atau yang sering disingkat dengan PKL adalah istilah untuk menyebut penjaja dagangan yang melakukan kegiatan komersial diatas daerah milik jalan (DMJ/trotoar) yang seharus nya diperuntukan untuk pejalan kaki.[1] Namun ada juga yang berpendapat bahwa pedagan kaki liama itu asalnya disebut karena mereka untuk menjajakan barang dagangan mereka menggunkan gerobak yang beroda tiga dan ditambah dua kaki pedaganag nya. Namun apapun sebutan untuk PKL, mereka tetap pedagang yang berjualan di trotoar jalan yang seharus nya digunakan untuk pejalan kaki
            Disini saya membahas mengenai pedagang kaki lima yang ada di lapangan tugu unsyiah, sebagaimana kita tahu bahwa lapangan tugu unsyiah adalah salah satu tempat yang tidak pernah sepi dari mahasiswa maupun masyarakat sekitar baik waktu jam kerja/kuliah atau larut malam, masih bisa kita lihat banyak orang disana, baik itu hanya sekedar lewat maupun mahasiswa yang nongkrong dimalam hari.
            Oleh karena itu lapangan tugu menjadi salah satu tempat yang sangat strategis bagi pedagang kaki lima untuk menjajakan barang dagangan mereka, sasaran utama consumen nya adalah mahasiswa atau masyarakat sekitar. Dilapanagan tugu Unsyiah banyak sekali kita temukan pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangan yang beragam, ada yang menjual makanan seperti gorengan, bakso, jus, mie Aceh dan masih banyak lagi yang lain nya. Dan ada juga yang menjual pakean seperti baju, sepatu, tas, asesoris dan ada juga yang menjajakan skill seperti sol sepatu, dan bengkel elek tronik. Dan lapak mereka semua nya bongkar pasang, atau ada juga yang menjajakan dagangan mereka mengunakan gerobak, mobil bak terbuka dan kios kios kecil yang bisa dibongkar kapan saja.
            Namun apakah yang mereka lakukan sebagai PKL sudah tepat dimata hukum atau badan ketertiban keamanan terkait(SATPOL PP). Saya melakukan observasi(pengamatan sehari penuh di lapangan tugu menyangkut keadaan disana. Disitu banyak saya lihat aktifitas PKL seperti biasanya, namun memasuki siang hari, saya melihat ada sebuah mobil bak terbuka yang di tumpangi tim SATPOL PP Banda Aceh, untuk menertibkan daerah tersebut. Melalui hasil pengamatan saya melihat sebagian pkl saja yang ditertibkan yanitu yang menjajakan barang dagangan mereka tepat di deadpan gelanggang mahasiswa Unsyiah, yang mayoritas PKL nya alah ibu ibu yang menjajakan dagangan seperti buah jambu keeling dan mentimun darah tinggi, sebutan itu adalah yang sering dipaki oleh orang Aceh.
            Namun timbul rasa penasaran saya terkait kejadian tersebut mengapa hanya sebgian PKL saja yang di tertibkan sementara PKL yang didepan Perpustkaan Induk Unsyiah tidak di tertibkan. Akhirnya saya bertanya kepada salah seorang mahsiswa yang melintas beberapa menit setelah kejadian tersebut, Dia menyebutkan bahwa area tersebut merupakan area bebas PKL, artinya tidak boleh ada yangberjualan atau sejenisnya di tempat tersebut. Dari kejadian diatas berarti dapat penulis simpulkan bahwa di daerah lapangan tugu Unsyiah tidak semuanya dapat dijadikan tempat berjualan oleh PKL, yang dibolehkan hanya sebatas didepan perpustakaan Induk Unsyiah.
            Setelah kejadian tersebut, keesokan harinya saya kembali lagi melakukan pengamatan di lokasi tersebut, namun saya melakukan nya hanya sekitar setengah jam saja, yaitu dari pukul 07:00 sampai dengan pukul 07:30 mengingat hari itu saya ada masuk jadwal perkuliahan, namun setiba saya disana saya masih melihat ibu ibu yang menjajakan barang dagangan yang sama di tempat yang telah dilarang tersebut, saya menghampiri seorang ibu ibu yang berjualan jambu air, saya bertanya mengapa ibu masih berjaualan disini padahal ini adalah tempat bebas PKL, apakah ibu tidak takut dirazia lagi seperti kemarin? Ibu itu menjawab, biasanya nak petugas itu hanya datang dalam seemingggu atau dua minggu sekali, kemarin ketika ibu berjualan paslagi hari mereka razia,
Namun itu sekitar tahun 2016, dan sekarang alhamdulillah sudah tertib area tersebut dari PKL.
            Kemudian saya bertanya lagi, apakah ibu bisa memastikan hari apa biasanya mereka razia, beliau menjawawab tidak pasti. jadi dapat saya simpulkan bahwa kenekatan ibu tadi dapat dipicu karena kebutuhan ekoomi, namun disi focus penelitian saya bukanlah didaerah bebas PKL, namun focus saya lebih kedaerah yang dibolehkan berjualan bagi pkl yaitu didepan perpustakaan Unsyih di samping lapangan tugu.
2.   Mengapa mereka memilih berdagang di kaki lima
            Hari selanjutnya saya kembali melakukan observasi dan wawancara guna mendapatkan informasi untuk memenuhi reaserch saya tentang PKL. Pada bagian ini saya tertarik untuk menegetahui informasi yang menjadi inti dari research saya yaitu mengapa mereka memilih berdagang dikaki lima? Saya mewawancarai 8 orang PKL yang ada dilapangan tugu, dan saya anggap itu sudah cukup untuk memberi data yang akurat untuk research saya. Dan disini saya menemukan jawaban yang sangat menarik dari kedelapan PKL yang saya wawancarai, yaitu saya menemukan jawaban yang sama dari kedelapannya,
            Mengapa mereka memilih berdagang di kaki lima? jawaban nya adalah itu salah satu mata pencaharian pokok/utama mereka karena itu pekerjaan yang menjanjikan. Kemudian saya bertanya lagi bagaiman jika ada pekerjaan lain yang bisa dijadikan obsi, dari delapan orang PKL yang saya wawan carai sumua sama jawaban nya, untuk sekarang ini merupakan pilihan utama.
            Memang sebagaimana kita tahu bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang memiliki penduduk terbanyak nomor empat didunia, berdasarkan data sensus tahun 2015 penduduk Indonesia 254,9 juta jiwa[2]. Dari sekian banyak penduduk Indonesia, yang berpendidikan (sarjana) hanya 20% saja, dari 20% hanya 7,8% lapangan kerja yang dapat menampung mereka, itu artinya perekonomian Indonesia tumbuh masih secara lambat. Maka tidak hayal apabila Indonesia menempati urutan no 2 setelah Thailand PKL terbanyak di asia tenggara. Jadi jawaban dari PKL yang saya wawancarai masuk akal apabila mereka menempatkan berjualan sebagi PKL menjadi pilihan utama matapencaharian mereka.
            Salah satu PKL yang saya wawancarai bernama Amad Arian merupakan seorang sarjana manajemen angkatan lulusan tahun 2012, dia menjadi PKL karena tidak ada nya lapangan kerja yang menampung dia untuk bekerja. Jadi kesimpulannya mereka memilih menjadi pkl karena tidak ada opsi kerja yang lain. Namun bukan berarti berdagang kaki lima sama seperti mengamen, yaitu pemasukan yang paspasan, selanjut nya saya akan membahas di judul berikut nya.
3.   Obset pedagang kaki lima lapangan tugu dalam sehari
            Obset pedagang kaki lima lapangan tugu adalah heterogen, namun setelah saya melakukan survei dapat saya simpulkan omset mereka berkisar atara 500.000 sampai dengan 1000.000. dilihat data diatas peneliti dapat menyimpulkan bebrapa poinyaitu bahwa pendapatan atau laba bersih pedagang kaki lima dalam sehari adalah 200.000 sampai dengan 350.000.
            Itu masih laba kotor karena belum dipotong pajak jalan dan anggunan kebersihan, kita lihat disini saya wawancarai seorang pedagang bakso goreng, beliau membenarkan bahwa adanya membayar pajak tiap hari nya kepada pemerintah kota dan beliau sendiri ketika saya Tanya apakah itu benr bear dari pemerintah kota atau bukan, beliau hanya menjawab saya kurang tau dan kami disini hanya mencari bekal buat makan sehari hari.
4.   Bagaiman pendapat konsumen mengenai pkl lapanagan tugu
            Dalam hal ini tibul pertanyaan apakah pedagang kaki lima apangan tugu sudah diterima oleh masyarakat sekitar atau onsumen, disini saya mewawan carai beberapa orang dan pendapat merekapun beragam mengenai pendagang kaki la lapangan tugu.
a.       Bersifat positif
      Adadikalangan masyarakat atau konsumen yang berpendapat positif mengenai PKL di lokasi tersebut, mereka menilay dengan adanya PKL tersebut maka akan memudahkan mahasiswa untuk sekedar membeli jajan atau membeli sesuatu perlengkapan kuliah misal nya.
      Dengan adanya PKL dilapangan tersebut maka apabila ada pertukaran pelajar karena sebagaimana kita tahu bahwa Barang makan yang mereka jajakan itu mencerminkan makakan khas Aceh atau makanan khas Indonesia.
b.      Bersifat negative
      Adajuga yang berkomentar negative menyangkut perihal tersebut, yaitu mereka menilay dengan adanya PKL mdi lokasi tersebut dapat menimbulkan penimbunan sampah yang banyak dan mereka juga buanag nya sembarangan lekas mereka.



[1] . wikepedia indonesia
[2] Badan pusat statistic(2015) hidayatllah.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar