Sabtu, 25 Maret 2017

METODELOGI PENELITIAN
“PKL” SEBUAH TUNTUTAN ATAU PILIHAN










DOSEN PEMBIMBING
Dr. AZHAR SYAH. SE. A.K. M. SOM

PENELITI
MAHYUDIN



UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRYFAKULTAS EKONOMI BISNIS ISLAMPERBANKAN SYARIAH

BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian pedagang kaki lima
            Pedagang kaki lima atau yang sering disingkat dengan PKL adalah istilah untuk menyebut penjaja dagangan yang melakukan kegiatan komersial diatas daerah milik jalan (DMJ/trotoar) yang seharus nya diperuntukan untuk pejalan kaki.[1] Namun ada juga yang berpendapat bahwa pedagan kaki liama itu asalnya disebut karena mereka untuk menjajakan barang dagangan mereka menggunkan gerobak yang beroda tiga dan ditambah dua kaki pedaganag nya. Namun apapun sebutan untuk PKL, mereka tetap pedagang yang berjualan di trotoar jalan yang seharus nya digunakan untuk pejalan kaki
            Disini saya membahas mengenai pedagang kaki lima yang ada di lapangan tugu unsyiah, sebagaimana kita tahu bahwa lapangan tugu unsyiah adalah salah satu tempat yang tidak pernah sepi dari mahasiswa maupun masyarakat sekitar baik waktu jam kerja/kuliah atau larut malam, masih bisa kita lihat banyak orang disana, baik itu hanya sekedar lewat maupun mahasiswa yang nongkrong dimalam hari.
            Oleh karena itu lapangan tugu menjadi salah satu tempat yang sangat strategis bagi pedagang kaki lima untuk menjajakan barang dagangan mereka, sasaran utama consumen nya adalah mahasiswa atau masyarakat sekitar. Dilapanagan tugu Unsyiah banyak sekali kita temukan pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangan yang beragam, ada yang menjual makanan seperti gorengan, bakso, jus, mie Aceh dan masih banyak lagi yang lain nya. Dan ada juga yang menjual pakean seperti baju, sepatu, tas, asesoris dan ada juga yang menjajakan skill seperti sol sepatu, dan bengkel elek tronik. Dan lapak mereka semua nya bongkar pasang, atau ada juga yang menjajakan dagangan mereka mengunakan gerobak, mobil bak terbuka dan kios kios kecil yang bisa dibongkar kapan saja.
            Namun apakah yang mereka lakukan sebagai PKL sudah tepat dimata hukum atau badan ketertiban keamanan terkait(SATPOL PP). Saya melakukan observasi(pengamatan sehari penuh di lapangan tugu menyangkut keadaan disana. Disitu banyak saya lihat aktifitas PKL seperti biasanya, namun memasuki siang hari, saya melihat ada sebuah mobil bak terbuka yang di tumpangi tim SATPOL PP Banda Aceh, untuk menertibkan daerah tersebut. Melalui hasil pengamatan saya melihat sebagian pkl saja yang ditertibkan yanitu yang menjajakan barang dagangan mereka tepat di deadpan gelanggang mahasiswa Unsyiah, yang mayoritas PKL nya alah ibu ibu yang menjajakan dagangan seperti buah jambu keeling dan mentimun darah tinggi, sebutan itu adalah yang sering dipaki oleh orang Aceh.
            Namun timbul rasa penasaran saya terkait kejadian tersebut mengapa hanya sebgian PKL saja yang di tertibkan sementara PKL yang didepan Perpustkaan Induk Unsyiah tidak di tertibkan. Akhirnya saya bertanya kepada salah seorang mahsiswa yang melintas beberapa menit setelah kejadian tersebut, Dia menyebutkan bahwa area tersebut merupakan area bebas PKL, artinya tidak boleh ada yangberjualan atau sejenisnya di tempat tersebut. Dari kejadian diatas berarti dapat penulis simpulkan bahwa di daerah lapangan tugu Unsyiah tidak semuanya dapat dijadikan tempat berjualan oleh PKL, yang dibolehkan hanya sebatas didepan perpustakaan Induk Unsyiah.
            Setelah kejadian tersebut, keesokan harinya saya kembali lagi melakukan pengamatan di lokasi tersebut, namun saya melakukan nya hanya sekitar setengah jam saja, yaitu dari pukul 07:00 sampai dengan pukul 07:30 mengingat hari itu saya ada masuk jadwal perkuliahan, namun setiba saya disana saya masih melihat ibu ibu yang menjajakan barang dagangan yang sama di tempat yang telah dilarang tersebut, saya menghampiri seorang ibu ibu yang berjualan jambu air, saya bertanya mengapa ibu masih berjaualan disini padahal ini adalah tempat bebas PKL, apakah ibu tidak takut dirazia lagi seperti kemarin? Ibu itu menjawab, biasanya nak petugas itu hanya datang dalam seemingggu atau dua minggu sekali, kemarin ketika ibu berjualan paslagi hari mereka razia,
Namun itu sekitar tahun 2016, dan sekarang alhamdulillah sudah tertib area tersebut dari PKL.
            Kemudian saya bertanya lagi, apakah ibu bisa memastikan hari apa biasanya mereka razia, beliau menjawawab tidak pasti. jadi dapat saya simpulkan bahwa kenekatan ibu tadi dapat dipicu karena kebutuhan ekoomi, namun disi focus penelitian saya bukanlah didaerah bebas PKL, namun focus saya lebih kedaerah yang dibolehkan berjualan bagi pkl yaitu didepan perpustakaan Unsyih di samping lapangan tugu.
2.   Mengapa mereka memilih berdagang di kaki lima
            Hari selanjutnya saya kembali melakukan observasi dan wawancara guna mendapatkan informasi untuk memenuhi reaserch saya tentang PKL. Pada bagian ini saya tertarik untuk menegetahui informasi yang menjadi inti dari research saya yaitu mengapa mereka memilih berdagang dikaki lima? Saya mewawancarai 8 orang PKL yang ada dilapangan tugu, dan saya anggap itu sudah cukup untuk memberi data yang akurat untuk research saya. Dan disini saya menemukan jawaban yang sangat menarik dari kedelapan PKL yang saya wawancarai, yaitu saya menemukan jawaban yang sama dari kedelapannya,
            Mengapa mereka memilih berdagang di kaki lima? jawaban nya adalah itu salah satu mata pencaharian pokok/utama mereka karena itu pekerjaan yang menjanjikan. Kemudian saya bertanya lagi bagaiman jika ada pekerjaan lain yang bisa dijadikan obsi, dari delapan orang PKL yang saya wawan carai sumua sama jawaban nya, untuk sekarang ini merupakan pilihan utama.
            Memang sebagaimana kita tahu bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang memiliki penduduk terbanyak nomor empat didunia, berdasarkan data sensus tahun 2015 penduduk Indonesia 254,9 juta jiwa[2]. Dari sekian banyak penduduk Indonesia, yang berpendidikan (sarjana) hanya 20% saja, dari 20% hanya 7,8% lapangan kerja yang dapat menampung mereka, itu artinya perekonomian Indonesia tumbuh masih secara lambat. Maka tidak hayal apabila Indonesia menempati urutan no 2 setelah Thailand PKL terbanyak di asia tenggara. Jadi jawaban dari PKL yang saya wawancarai masuk akal apabila mereka menempatkan berjualan sebagi PKL menjadi pilihan utama matapencaharian mereka.
            Salah satu PKL yang saya wawancarai bernama Amad Arian merupakan seorang sarjana manajemen angkatan lulusan tahun 2012, dia menjadi PKL karena tidak ada nya lapangan kerja yang menampung dia untuk bekerja. Jadi kesimpulannya mereka memilih menjadi pkl karena tidak ada opsi kerja yang lain. Namun bukan berarti berdagang kaki lima sama seperti mengamen, yaitu pemasukan yang paspasan, selanjut nya saya akan membahas di judul berikut nya.
3.   Obset pedagang kaki lima lapangan tugu dalam sehari
            Obset pedagang kaki lima lapangan tugu adalah heterogen, namun setelah saya melakukan survei dapat saya simpulkan omset mereka berkisar atara 500.000 sampai dengan 1000.000. dilihat data diatas peneliti dapat menyimpulkan bebrapa poinyaitu bahwa pendapatan atau laba bersih pedagang kaki lima dalam sehari adalah 200.000 sampai dengan 350.000.
            Itu masih laba kotor karena belum dipotong pajak jalan dan anggunan kebersihan, kita lihat disini saya wawancarai seorang pedagang bakso goreng, beliau membenarkan bahwa adanya membayar pajak tiap hari nya kepada pemerintah kota dan beliau sendiri ketika saya Tanya apakah itu benr bear dari pemerintah kota atau bukan, beliau hanya menjawab saya kurang tau dan kami disini hanya mencari bekal buat makan sehari hari.
4.   Bagaiman pendapat konsumen mengenai pkl lapanagan tugu
            Dalam hal ini tibul pertanyaan apakah pedagang kaki lima apangan tugu sudah diterima oleh masyarakat sekitar atau onsumen, disini saya mewawan carai beberapa orang dan pendapat merekapun beragam mengenai pendagang kaki la lapangan tugu.
a.       Bersifat positif
      Adadikalangan masyarakat atau konsumen yang berpendapat positif mengenai PKL di lokasi tersebut, mereka menilay dengan adanya PKL tersebut maka akan memudahkan mahasiswa untuk sekedar membeli jajan atau membeli sesuatu perlengkapan kuliah misal nya.
      Dengan adanya PKL dilapangan tersebut maka apabila ada pertukaran pelajar karena sebagaimana kita tahu bahwa Barang makan yang mereka jajakan itu mencerminkan makakan khas Aceh atau makanan khas Indonesia.
b.      Bersifat negative
      Adajuga yang berkomentar negative menyangkut perihal tersebut, yaitu mereka menilay dengan adanya PKL mdi lokasi tersebut dapat menimbulkan penimbunan sampah yang banyak dan mereka juga buanag nya sembarangan lekas mereka.



[1] . wikepedia indonesia
[2] Badan pusat statistic(2015) hidayatllah.blogspot.com

Kamis, 23 Maret 2017

PEMBERONTAKAN MORO DI FILIPINA

DisusununtukmemenuhitugasmatakuliahSejarah Asia Tenggara padajurusanPendidikanSejarah

OlehKelompok 2:

Muhammad Ikram :1506101020048


DosenPembina : Drs. Teuku Abdullah Sakti





FakultasKeguruandanIlmuPendidikan
UniversitasSyiahkuala
Banda Aceh 2016



Kata Pengantar

d8a8d8b3d985d984d8a9.jpg


Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas makalah ini guna memenuhi tugas  mata kuliah Sejarah Asia Tenggara.
Belakangan ini sering kita jumpai permasalahan-permasalahan sumber sejarah Indonesia dan Timor Timur yang belum banyak diketahui masyarakat banyak, umumnya masyarakat Asia Tenggara dan khususnya Indonesia. Sehingga pengetahuan tentang sejarah yang sebenarnya tentang Indonesia dan Timor Timur terbatasi untuk diketahui.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang sejarah negara Indonesia dan Timor Timur  maka kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber  referensi, dan berita.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa/i Universitas Syiah Kuala. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing kami meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami dimasa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.



Banda Aceh, 10 November 2016

Penyusun







DAFTAR ISI














BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang luas dan berpulau-pulau. Sehingga banyak sejarah yang menceritakan dari mulai sejak masa penjajahan, berdirinya negara Indonesia serta terbentuknya Indonesia yang utuh sampai saat ini. Sejarah Indonesia juga tidak lepas dari masalah mantan daerah kekuasaan pemerintahan Indonesia, yaitu Timor Timur. Dahulu Timor Timur adalah provinsi ke-27 dari Indonesia. Indonesia dan Timor Timur memiliki sejarah yang panjang dan tak pernah terpisahkan.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana keadaan Timor Timur pada masa Penjajahan kolonialisme?
2.      Bagaimana perjuangan masyarakat Timor Timur pada perang saudara?
3.      Bagaimana keadaan Timor Timur setelah lepas dari NKRI?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah sejarah asia tenggara.
2.      Menambah wawasan tentang sejarah Indonesia dan Timor Timur.
3.      Agar para pembaca dapat menambah ilmu pengetahuan tentang sejarah Indonesia dan Timor Timur.












BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    MASUKNYA PENGUASA KOLONIAL

Jauh sebelum Portugis dan Belanda masuk kewilayah ini, pulau Timor adalah bagian dari jaringan dagang yang secara politisi berpusat di Jawa Timur dan kemudian Celebes (Sulawesi). Jaringan ini terikat dalam suatu jaringan komersial dengan Cina dan India. Duarte Barbosa, salah seorang Portugis yang pertama kali mengunjungi pulau Timor, menulis tahun 1598 ‘cendana putih di pulau itu sangat berlimpah. Orang-orang Moor di India dan Persia memberi penilaian sangat tinggi, banyak yang telah dimanfaatkan di pulau cendana’. Seorang antropolog Belanda , Schulte-Nordholt mengatakan bahwa peta dunia yang digambarkan oleh Gerelamo de Verrazano tahun 1529, peta Asia Tenggara hanya menyebut Sumatera dan pulau rempah-rempah, termasuk disini Timor. Konsekuensinya, meskipun komoditi lain seperti madu, minyak lilin dan budak juga diekspor dari Timor, fokus perdangangan Portugis terutama pda produksi cendana yang berlimpah itu.
Pada awal abad ke-16, Malaka, yang terletak di pantai barat Semenanjung Melayu, menurut sejarawan DGE Hall adalah kekuatan politik masyarakat kalangan atas, pusat perdagangan paling komersial di kawasan Asia Tenggara dan juga penyebaran agama Islam. Pelabuhan Malaka mengendalikan perdangangan sepanjang rute pulau rempah-rempah di Indonesia bagian Timur menuju ke India dan Cina. Maka dari itu Malaka adalah target utama Portugis untuk menguasai daerah tersebut. Malaka ditaklukan pada tahun1511. Kemudian armada Portugis bergerak kearah timur dengan membangun pabrik-pabrik di kepulauan rempah-rempah yang kaya, dengan berpusat pada pulau-pulau tertentu seperti Ambon dan Maluku.
Pendaratan Portugis pertama dikawasan Timor adalah di pulau Solor. Tahun 1566 para imam Dominikan membangun sebuah benteng. Portugis pun tiap tahun berlayar ke Timor untuk mengumpulkan cendana dan memperdangangkan barang-barang jadi. Pada tahun 1613 Belanda bermaksud menaklukan Solor dan penduduk di dalam benteng itu pindah ke pulau tetangga, Larantuka. Sementara Solor terus berganti-ganti kekuasaan antara Belanda dan Portugis.
Masa pertengahan abad ke-17 inilah yang merupakan titik balik dalam sejarah Timor. Karena sepanjang tahun tersebut Portugis menyerang Timor dengan kekuataan penuh. Merek bergerak langsung menyerang kerajaan barat di Sonbai dan kerajaan pelindung mereka, Babali atau Wehale. Portugis melihat Wehale sebagai pusat politik dan agama di Timor. Setelah Portugis membumi-hanguskan Wehale kemudian mereka bergerak menuju Batimao.
Tahun 1633 pasukan Belanda berhasil menaklukan pasukan Portugis di Kupang, bagian barat pulau, yang kemudian diikuti dengan pendaratan kekuatan militer secara besar-besaran tahun 1656. Tapi tidak seperti ketika Portuugis pertama kali menyeang, pasukan Belanda haru menghadapi perlawanan dari raja-raja barat yang telah di persenjatai dengan perlenglkapan militer yang memadai untuk menghadapi kemajuan militer Belanda. Akhirnya merekapun berhasil mengenyahkan pasukan Belanda dalam suatu peperangan yang singkat. Pasukan Belanda terdesak untuk pindah ke pulau tetangga, Pulau Roti dan ini membuat kontrol efektif Pulau Timor ada di tangan golongan Topasse.
Topasse datang hanya dari tiga golongan : pedangang Portugis, imam Dominikan, dan orang-orang Timor itu sendiri. Sepanjang abad ke -17 sampai awal abad ke-18 , tiga pihak ini terus berkonflik, tapi pada masa-masa tertentu mereka bersatu menghadapi musuh bersama yaitu Belanda, yang terus berusaha memperluas pengaruhnya. Sementara itu Belanda sekali lagi memperluas kekuasaan di bagian barat pulau. Pada tahun 1749 mereka mengumumkan suatu serbuan gabungan atas wilayah yang dikuasai Belanda. Sehingga terjadi peperangan yang sangat brutal, yang kemudian dikenal di Timor sebagai Perang Penfui. Pasukan Belanda berhasil mematahkan perlawanan. Dan dengan bantuan Belanda, Raa Serviao kemudian berhasil mengusir tuan-tuan Topasse dari wilayahnya. Akhirnya dari perang Penfui adalah ditetapkannya pembagian wilayah  kekuasaan pulau Timor. Belanda di bagian barat dan Portugis di bagian timur.
Perang Pasifik menyebabkan porak-porandanya sistem yang telah di buat oleh Portugis di Timor Timur. Jepang menyerbu pulau itu. Ini dikarenakan Jepang melihat pihak sekutu memanfaatkan Timor sebagai basis terdepan pertahanan Australia. Serbuan Jepang berpengaruh terhadap sistem kolonial maupun bagi masyarakat Timor. Sesudah serangan Jepang atas Pearl Harbour, 400 yang tentara Belanda dan komando Australia mendarat di Dili. Penderatan ini bertentangan dengan kehendak Gubernur Portugis. Tujuan mereka adalah mendorong pengambialihan dari Jepang. Ini merupakan suatu hal yang dipandang utama oleh sekutu. Akibat dari aksi tersebut, Jepang menjadi yakin bahwa sekutu telah punya rencana untuk menggunakan Timor sebagai satu basis militer terdepan, dan mengirimkan 20.000 tenteara untuk mengambil alih pulau itu. 400 tentara sekutu berhasil mencederai 1500 tentara Jepang, sampai akhirnya mereka terpaksa mundur ke Australia bulanJanuari 1943.
Pada masa sesudah Perang Pasifik, kekuasaan politik Timor Timur sebagian besar dikuasai oleh kelompok elit yang menempati posisi kuasa baik dalam struktur kolonial maupun dalam sistem kekerabatan pribumi. Keanggotaan golongan elit yang bekerja di bidang-bidang kolonial tersebut pada masa sesudah perang Pasifik kemudian diperluaskan. Saat itu terjadi berbagai perubahan yang harus dilakukan oleh penguasa kolonial karena semakin buruknya keadaan ekonomi kolonial. Perubahan terjadi pada bidang pendidikan dan administrasi.

B.     TIMOR TIMUR DAN INDONESIA

Portugis tidak bakal mau melepaskan kontrol kolonialnya, kecuali kalau dipaksa. Portugis tidak akan melepaskan Timor lebih jauh dari apa yang Amerika lakukan terhadap Hawaii. Perkembangan di Timor tahun 1960an terjadi setelah semakin banyaknya gerakan kemerdekaan di Afrika yang sukses dan semakin beratnya beban biaya pemerintahan Portugis. Oleh karena itu, Portugis melihat perlunya restrukturisasi sistem imperial dengan cara memberi otonomi lebih besar dari koloni. Tetapi tujuan akhirnya adalah menunda kemerdekaan Timor Timur.
Sekitar pertengahan tahun 1960an, sangat dimungkinkan sekali munculnya suatu kelompok sosial politik baru, yang mampu mengekspresikan pengetahuan mereka tentang nilai pembangunan nasional dalam kerangka nilai-nilai masyarakata pribumi. Bagaimanapun juga kemungkinan ini tergantung pada dua faktor : pertama kemampuan pemerintah Potugis mengatur proses dekolonisasi bertahap, dan yang kedua kemampuan kaum elit Timor mengembangkan parta-partai politik dengan basis pendesaan yang kuat. Kalau kedua faktor ini dapat di lalui, maka kemerdekaan politik dapat diraih. Timor Timur akan menjadi negara berkembang yang sukses di Asia Tenggara. Akan tetapi kesuksesan ini tidak cuma tergantung pada kekuatan di dalam Timor Timur itu sendiri, tetapi juga dalam konteks Internasional, terutama konteks regional. Selama ini wilayah Asia Tenggara, diabaikan oleh kolonialisme Portugis sejak kalahnya Belanda abad ke-17. Bahkan yang lebih penting adalah negara tentangga Timor Timur yaitu Indonesia.
Sejak selesainya perang Pasifik dan hancurnya kontrol kolonial Belanda, Indonesia dengan segera menjadi ujung tombak keamanan wilayah Asia Tenggara. Negara yang memiliki kekayaan alam berlimpah dan tanah yang subur. Negara berdaulat Indonesia ini menjadi pusat perhatian dunia. Tidak heran yang paling mendukung kemerdekaan negara ini, dan paling berpengaruh dalam negosiasi dengan Belanda adalah pemerintah Amerika Serikat.
Pemerintah Indonesia pertama yang berdiri sesudah tahun 1945 adalah Seokarno. Seokarno menghadapi berbagai pemberontakan di daerah-daerah lain seperti gerakan islam di Jawa dan Sumatra, dari kelompok Kristen di Maluku, bahkan pemberontakan di Timor Timur.
Timor Timur adalah bekas daerah jajahan Portugis sedangkan Indonesia adalah bekas jajahan Belanda. Oleh sebab itu, banyaknya persilisihan antara Indonesia dengan Timor Timur. Seperti yang dinyatakan oleh Menteri Soebandrio: “kami tidak punya tuntutan atas Timor Portugis, ataupun Borneo Utara dan wilayah lainnya diluar bekas jajahan Belanda”. Namun pernyataan yang bertentangan dengan sikap diatas bukan tidak ada. Terhitung pada awal 1950an, Mohamad Yamin seorang Menteri Kehakiman dan Pendidikan, menyatakan bahwa “Indonesia harus memasukkan wilayah bekas Hindia Belanda, Borneo utara dan seluruh Timor Portugis dalam wilayahnya”. Berikutnya tahun 1961. Ruslan Abdulgani, Wakil Ketua DPA, menyatakan bahwa “mata dan hati Indonesia terarah ke Timor Portugis... tumbuhkan dalam hati kebencianmu tidak hanya pada kolonialisme Portugis, tetapi pada seluruh kolonialisme yang masih hidup di tanah Asia dan Afrika”.
Dibalik pernyataan-pernyataan di atas, juga terdapat bukti mengenai tindakan yang lebih mendukungkemerdekaan. Menurut laporan PBB 1962 tentang Timor Timur tercatat adanya ‘Biro pembatasan Republik Timor’ di Jakarta. Sekitar bulan Mei-Juni 1963, biro tersebut menyatakan telah mendirikan sebuah pemerintahan dengan 12 menteri di Batugade, Timor Timur. Pernyataan itu meminta pengakuan dari pemerintah negara lainnya.
Munculnya gerakan yang disponsori Indonesia di awal tahun 60an ini tampaknya di Timor Timur pada tahun 1959. Pada tahun itu, 14 penjabat militer Indonesia mendarat di pantai Timor Timur dan memohon pada suaka politik ;mereka berasal dari Sulawesi Selatan, dan terlibat dalam sebuah pemberontakan tahun 1958 menentang pemeritahan pusat. Orang-orang Indonesia itu mulai membangun sekutu dengan kelompok-kelompok yang menantang pemerintahan Protugis. Tujuan mereka adalah persatuan Indonesia dengan Timor Portugis.
Pada 7 Juni 1959 sebuah pemberontakan terjadi. Serangan diarahkan ke posko-posko Portugis di Uatolari dan Uatocarabu. Sebuah revolusi lainnya juga terjadi di Dili. Pemberontakan pun berakhir pada tanggal 14 Juni 1958. Perkiraan orang mati berkisar antara 160 sampai 100 orang. Dalam memadamkan pemberontak tersebut, pasukan Portugis membakar desa-desa, keluarga-keluarga di bunuh Dan sebagian besar pemimpin masyarakat dieksekusi. Sejumlah 57 orang Timor telah di buang ke Anbola dan Mozambique.
Keterlibatan Indonesia dalam revolusi itu beragam. Ada laporan yang mengatakan bahwa 14 pejabat Indonesia tersebut adalah agen langsung pemerintahan Indonesia yang dikirim kan untuk mengorganisir penghapusan pemerintah kolonial. Namun secara perlahan di dalam tubuh militer dan pejabat tinggi negara ‘masalah’ Timor kembali muncul di permukaan. Militer lebih baik memasukkan pulau itu kewilayah Indonesia apabila kekuasaan Portugis berkembang menjadi tidak stabil atau tidak dapat bertahan seterusnya.OPSUS berkesimpulan bahwa kalau Timor Portugis merdeka, itu merupakan ancama bagi wilayah bagian Timur.

C.    PERANG SAUDARA

Sejak 1975 terjadi perang antara negara besar terhadap tetangganya yang kecil. Perang ini dimulai sekitar Oktober 1975 ketika sekelompok “sukarelawan” bersenjata masuk ke Timor Timur dari Timor Barat untuk membantu salah satu pihak dalam “perang saudara” di sana. Penyusupan yang kemudian terungkap dilakukan oleh satuan-satuan komando tentara Indonesia ini disusul dengan invasi besar-besaran dari darat, laut, dan udara pada bulan Desember. Seperempat dari seluruh rakyat Timor Timur menjadi korban perang ini, baik karena pertempuran maupun karena kelaparan akibat sangat terganggunya produksi bahan makanan dan hancurnya pelayanan kesehatan. Suatu jumlah yang proporsinya terbesar dalam seluruh sejarah dunia modern.
Invasi ini dibiarkan saja oleh negara-negara besar dunia. AS, Australia, Jepang dan beberapa negara lain seperti Inggris bahkan bisa dikatakan membantu Indonesia dengan cara terus melanjutkan perjualan senjata. Australia menjual pesawat-pesawat terbang bom OV-10 Bronco dan Inggris menjual pesawat HS Hawk yang digunakan untuk membom Timor Timur dan menimbulkan korban ang sangat besar. Australia segera mengakui Timor Timur sebagai wilayah Indonesia tidak lama setelah invasi dan pencaplokan. Negara-negara besar lain di Majelis Umum PBB menerukan untuk mengutuk invasi dan menyuruh penarikan segera tentara Indonesia.
Amerika Serikat memegang peranan penting dalam perang di Timor Timur. Invasi 7 Desember 1975 dilakukan atas restu pemerintahan Amerika Serikat, yang merasa terancam bahwa Timor Timur yang merdeka menjadi ‘Kuba di Asia’. Maka dari itu pemerintah AS memberikan bantuan ekonomi maupun dukungan politik kepada rezim Soeharto. Pers Barat turut mendiamkan perang itu. Pada awal invasi Timor Timur ada beberapa berita, tapi selanjutnya hilang. Selama bertahun-tahun media masa menutup mata terhadap bermacam tindakan brutal terhadap rakyat Timor Timur, yang diperparah oleh kebijakan pemerintah Indonesia sendiri yang tidak mengizinkan media massa berkunjung ke wilayah tersebut. Penyebab terjadina invasi tak lain dan tak bukan adalah kepentingan ekonomi politik negara-negara besar. Maka terus berlangsunglah kemunafikan negara-negara Barat ang terus dikritik oleh masyarakatnya sendiri.
Di Indonesia, pemerintah menyebarluaskan pandangan bahwa Indonesia adalah pihak yang membantu menciptakan keamanan dan ketertiban di Timor Timur akibat pemerintahan Portugis. Rakyat Timor Timur kemudian bertekad bulat untuk melakukan “intergrasi” dengan Indonesia melalui apa ang disebut dengan “Deklarasi Balibo” pada 30 November 1975, pernyataan ini menjadikan keresahan dan perlawanan karena adanya unsur-unsur “anti-integrasi” yang digerakan oleh Portugis. Ada dua kubu partai yang membagi Timor Timur, Trabalhista menginginkan “integrasi” dengan Indonesia, dan ADILTA menginginkan “integrasi” dengan Australia. Di Timor Timur sebenarnya banyak berbagai macam partai politik dengan pandangan tentang masa depan Timor Timur, seperti ; FRETILIN menginginkan kemerdekaan segera, UDT menginginkan hubungan dengan Portugis sampai suatu saat di masa depan rakyat siap untuk merdeka, dan APODETI bersama dua partai lagi KOTA dan Partido.
Pada 28 November, FRETILIN mengumumkan kemerdekaan Timor Timur dan pembentukan negara Republik Demokratis Timor Timur. Dua hari kemudian, front empat partai yang sudah terdesak itu mengumumkan “Deklarasi Balibo” menetapkan “integrasi” Timor Timur dengan Indonesia. Deklarasi ini menjadi kenyataan setelah terjadinya serangan skala penuh oleh Indonesia pada 7 Desember 1975 dengan mengirimkan puluhan ribu orang tentara. Dimata Internasional, Timor Timur belum melaksanakan dekolinisasi. Karena itu di PBB status Timor Timur adalah suatu wilayah yang belum punya pemerintahan sendiri. Sedangkan rakyat Timor Timur sendiri menetukan kehendaknya, apakah mau merdeka atau bergabungan dengan Indonesia, Australia, atau menjadi provinsi Portugal atau pilihan lainnya.
Hingga kini, Timor Timur menjadi ajang perang. Dari hutan-hutan satuan FALINTIL melancarkan perang gerilya melawan tentara pendudukan. Di kota-kota kelompok kelompok bawah tanah terus melancarkan perlawanan damai berupa demonstrasi-demonstrasi menentukan hak rakyat Timor Timur untuk menetukan nasib sendiri yang berlaku secara Internasional. Perang ini terus disembunyikan, di Indonesia tidak ada yang tahu bahwa di Timor Timur tentara Indonesia sering melakukan pembantaian penduduk sipil, perkosaan terhadap kaum perempuan, penangkapan sewenang-wenang. Bahkan Indonesia tidak tahu berapa orang anggota ABRI Indonesia yang menjadi korban perang sejak tahun 1975. Mereka meninggal ketika menjalankan tugas negara. Sayangnya tugas itu adalah tugas yang harus dirahasiakan kepada siapapun.
Timor Timur menjadi bagian dari Indonesia tahun 1976 sebagai provinsi ke-27 setelah gubernur jendral Timor Portugis terakhir Mario Lemos Pires melarikan diri dari Dili setelah tidak mampu menguasai keadaan pada saat terjadi perang saudara. Portugal juga gagal dalam proses dekolonisasi di Timor Portugis dan selalu mengklaim Timor Portugis sebagai wilayahnya walaupun meninggalkannya dan tidak pernah diurus dengan baik.

D.    KEMERDEKAAN TIMOR TIMUR

Tepat pada 4 September 1999 di Dili dan di PBB hasil jajak pendapat masyarakat Timor Timur tentang pilihan untuk menerima otonomi khusus atau berpisah dengan NKRI diumumkan. Dan akhirnya, 78,5 persen penduduk menolak otonomi khusus dan memilih untuk memisahkan diri dari NKRI. Sejak itulah, isu disentegrasi bangsa menjadi suatu persoalan yang tidak bisa dinomorduakan sebab bukan tidak mungkin muncul “kecemburuan” dari daerah lain yang merasa dirinya kaya dan mampu mengurus daerahnya sendiri memilih memisahkan diri juga dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Untunglah, kekhawatiran itu tidak terjadi pasca Timor Timur menyatakan sikap untuk membuat negara sendiri yang kini bernama Timor Leste. Meskipun demikian, ancaman-ancaman untuk merobohkan bangunan NKRI selalu saja terbit ketika bangsa ini lemah dan lengah. Namun, siapakah pelaku yang mencoba merobohkan kebhinekaan Indonesia? Permusuhan dan permainan negara-negara yang merasa dirinya adidaya antara AS yang berkiblat pada ideologi liberalis dan negara-negara yang beraliran komunis.
Ada benarnya, apa yang ditulis oleh wartawan Batam Pos pada Selasa (28/8), Bung Abdul Latif dalam tulisannya di kolom opini, “DCA, Ancam Integritas Bangsa” bahwasanya ada intervensi atau campur tangan AS (Amerika Serikat) dalam perjanjian DCA antara Indonesia dan Singapura. Kekhawatiran ini, menurut hemat penulis bukanlah sesuatu hal yang mengada-ada, tetapi perlu dicermati bersama format seperti apa yang kita butuhkan untuk menjaga stabilitas dan keutuhan bangsa. Oleh sebab itu, ada baiknya kita belajar banyak dari sikap Timor Timur mengapa masyarakat di sana lebih memilih berpisah daripada bergabung dan menerima otonomi khusus dari pemerintah RI.
Bergabungnya Timor Timur sebagai propinsi ke-27 di masa pemerintahan Presiden Soeharto merupakan suatu cerita panjang bagi kehidupan kesejarahan dunia global umumnya dan khususnya bagi Indonesia. Bagaimana tidak, propinsi yang pernah dirasuki dan dikuasai Portugis itu, sekarang telah mengingkari ‘janji’-nya sendiri. Sebuah kesepakatan untuk setia kepada wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun, dibalik bergabungnya Timor Timur itu masih menyimpan teka-teki.yang mungkin tak terlalu sulit untuk dijawab. Mengapa negara lain khususnya Amerika Serikat mendukung pada saat disahkan RUU tentang integrasi Timor Timur ke wilayah Republik Indonesia. Amerika adalah sebagai negara yang mengaku dirinya negara super power atau adi daya tidak memperoleh keuntungan materi dari disahkannya RUU itu menjadi UU. Aneh tapi nyata, segala kesulitan-kesulitan yang dihadapi Indonesia selalu dibantu oleh negara penganut paham liberal tersebut. Khususnya tentang loby pihak Amerika kepada negara-negara lain untuk mengakui bahwa Timor Timur telah resmi bergabung dengan Indonesia.
Negara-negara lain biasanya mengamini saja kalau Amerika yang mempunyai kemauan. Akan tetapi, itu semua belum dapat menjawab teka-teki yang penulis katakan tak sulit untuk dijawab tadi. Inti dari “belas kasih” negeri yang sekarang dipimpin George W. Bush ini merupakan umpan empuk yang dipergunakan untuk memberangus paham atau ideologi komunis.
Kalau Timor Leste saat itu tidak bergabung, maka Amerika tentu akan merasa sulit untuk menyuntikkan paham-paham liberalnya, karena saat itu paham komunis terlebih dahulu masuk daripada paham yang mereka anut. Sementara, komunis bagi mereka adalah faktor penghambat sekaligus penghalang bagi mereka untuk menguasai dunia, sehingga membuat mereka menyusun kekuatan dengan pemerintah Indonesia pada saat itu untuk memberangus komunis di Timor Timur.
Bantuan setengah hati dari Amerika itu membuat Indonesia terbuai. Ketika paham komunis telah berhasil mereka tumpas, maka mereka mulai lepas tangan. Sehingga, pemerintah Indonesia terhanyut dalam kegamangan dan kekayaan propinsi-propinsi yang berpotensi besar menyumbangkan “upetinya” ke pemerintahan pusat. Selanjutnya, Timor Timur menjadi ‘anak adopsi’ yang tak terurus. Mereka hanya diberikan ‘uang jajan’ selebihnya dibiarkan.
Memang secara fisik Amerika tidak sedikit pun mempengaruhi apalagi menjajah Timor Timur untuk digali hasil kekayaannya secara materi, tetapi intervensi yang mereka lakukan hanyalah semata-mata untuk menolong dan mendukung Timor Timur, sehingga mereka mencari teman terdekat untuk diajak kerjasama yaitu Indonesia. Perbuatan yang kelihatannya terpuji menyimpan maksud terselubung yaitu terciumnya bau komunis di wilayah itu. Jadi, dengan bergabungnya Timor Timur dengan Indonesia, Amerika berharap, ideologi itu dapat diberangus guna mempermudah dan memuluskan paham modernisasi.
Sebagaimana yang ditulis Andi Yusran (1999: 128) bahwasanya masalah Timor Timur sebenarnya tidak melulu masalah politik, melainkan juga adalah persoalan hukum, persoalan yang selalu mengedepan saat ini dan sebelumnya adalah tidak adanya kepastian hukum bagi status Timor Timur, sejarah mencatat bahwa sejak awal integrasi (1975), integrasi tersebut tidak mendapat pengakuan dari PBB, namun demikian negara-negara barat seperti Amerika Serikat dan Australia, justru lebih awal memberikan dukungan, bahkan sejarah juga menunjukkan kalau AS “terlibat” dalam proses tersebut.
Masih menurutnya, dukungan negara-negara barat atas integrasi Timor Timur ke dalam wilayah RI itu bernuansa politik strategis, yakni usaha membendung pelebaran sayap komunisme, karena Fretelin yang sebelumnya telah memproklamirkan kemerdekaan atas Timor Timur secara sepihak (Nov 1974), dianggap beraliran Marxis. Dalam konteks ini, maka wajar jika Indonesia merasa telah di atas angin, karena telah mendapat dukungan AS dan negara Barat lainnya, konsekuensi dari semua itu Indonesia menjadi lengah (setengah hati?) tidak memperjuangkan status hukum atas Timor Timur, padahal sekiranya Indonesia mengangkat isu keabsahan Timor Timur di forum PBB minimal sebelum perang dingin berakhir (1989), besar kemungkinan AS beserta sekutu baratnya akan menjadi negara pertama yang mengakui integrasi tersebut.
Bermula dari perang saudara di Timor Timur, Fretelin golongam yang beraliran Marxis mendapat bantuan persenjataan. Bantuan persenjataan yang berasal dari Portugis menjadikan mereka kelompok yang berkuasa khususnya di daerah Dili. Pada 28 November 1975 secara sepihak Fretelin memproklamasikan berdirinya Republik Demokrasi Timor Timur dengan Xavier do Amaral sebagai presidennya, Ramos Horta sebagai menteri luar negeri dan Nicola Lobato sebagai perdana menteri.
Namun, proklamasi ini tidak mendapat dukungan dari masyarakat Timor Timur sendiri. Demi mewujudkan impiannya, Fretelin kemudian melakukan tindakan pembersihan terhadap lawan-lawan politiknya untuk menguasai wilayah Timor Timur sehingga terjadilah perang saudara. Pada 31 Desember 31 Mei 1976 saat sidang DPR tentang masalah Timor Timur dikeluarkan petisi yang mendesak pemerintah RI untuk secepatnya menerima dan mengesahkan integrasi Timor Timur ke dalam negara kesatuan RI tanpa referendum. Integrasi Timor Timur ke dalam wilayah RI diajukan secara resmi pada 29 Juni 1976. Dan seterusnya, pemerintah mengajukan RUU integrasi Timor Timur ke wilayah RI kepada DPR RI.
DPR melalui sidang plenonya menyetujui RUU tersebut menjadi UU Nomor. 7 Tahun 1976 pada 17 Juli 1976 dan ketentuan ini semakin kuat setelah MPR menetapkan TAP MPR No. VI / MPR/ 1978. Walhasil, Timor Timur menjadi Propinsi Indonesia yang ke-27. Dan propinsi yang baru lahir tersebut memiliki 13 kabupaten yang terdiri dari beberapa kecamatan. Ketigabelas kabupaten itu adalah Dili, Baucau, Monatuto, Lautem, Viqueque, Ainaro, Manufani, Kovalima, Ambeno, Bobonaru, Liquisa, Ermera dan Aileu. Arnaldo dos Reis Araujo dan Franxisco Xavier Lopez da Cruz diangkat oleh Presiden Soeharto menjadi gubernur dan wakil gubernur yang selanjutnya dilantik oleh Amir Machmud sebagai Menteri Dalam Negeri pada 3 Agustus 1976.
Bergabungnya Timor Timur ke wilayah Indonesia bukan berarti persoalan Timor Timur selesai begitu saja. Sementara, bagi pemerintah RI Timor Timur telah sah bergabung wilayah Indonesia dan menganggap ancaman disintegrasi kecil kemungkinan untuk terjadi. Kelompok-kelompok penekan yang menentang integrasi memang tak dapat tumbuh dan berkembang di masa itu, tetapi mereka terus bergerilya menyusun rencana dan mencari moment yang tepat untuk bergerak meneruskan perjuangan mereka untuk lepas dari wilayah Republik Indonesia.
Memang tokoh-tokoh sentral yang mengingkari pengintegrasian tersebut seperti Alexander Kay Rala alias Xanana Gusmao telah ditahan oleh pihak-pihak yang berwenang di lingkungan pengamanan pada Era Orde Baru. Dan itu tak lepas dari peran Presiden Soeharto yang jeli melihat aksi-aksi kritis yang mencoba memecah belah persatuan.
Di dunia internasional, Portugal yang memasuki wilayah Timor Timur pertama kali mempersoalkan propinsi yang berlambang dasar perisai berbentuk persegi lima tersebut. Indonesia menganggap ini bukan sesuatu yang membahayakan dan menganggap hal ini biasa-biasa saja karena memandang masalah Timor Timur sudah selesai dan Timor Timur telah mereka anggap sebagai anak kandung yang paling bungsu. Selalu dimanja dan dipuja-puja. Pemerintah telah memberikan bantuan dana bagi daerah ini sebesar 92 persen untuk tahun 1998.
Meskipun demikian, Dewan Keamanan PBB, terus mengobok-obok bergabungnya Timor Timur ke wilayah Indonesia dan mereka belum mengakui integrasi Timor Timur ke dalam wilayah RI.
Hingga pemerintahan Soeharto mengundurkan diri dari tampuk kekuasaan. Angin disentegrasi yang semula sepoi-sepoi berhembus, sekarang hembusannya semakin kencang. Apalagi bos CNRRT (Conselho Nacional de Resistencia Timorese) yang merupakan tempat oposisi Fretelin bergabung setelah disudutkan, Xanana Goemao telah dilepaskan. Rencana apik yang telah dia susun di dalam kerangkeng semakin mudah dia lakukan bersama konco-konconya.
B. J Habibie yang menggantikan mantan presiden Soeharto mau tidak mau turut tertimpa masalah dan beragam krisis termasuk krisis disentegari di Timor Timur yang merupakan warisan orang yang mengajarkan sekaligus mendiktenya untuk berpolitik itu. Habibie yang terkesan tidak tegas, plin-plan dalam mengambil keputusan merupakan faktor keberuntungan yang dimiliki oleh Xanana Goesmao untuk mengacaubalaukan rasa nasionalime rakyat Timor Timur.
Xanana Goesmao yang didukung oleh negara luar seperti Australia dan Portugal semakin menggebu-gebu untuk menyuarakan kemerdekaan. Akan tetapi, Presiden B.J Habibie berupaya keras untuk menampal luka lama Partai Fretelin itu. Sayangnya, manusia brilliant asal Indonesia itu tidak mampu menutup luka secara utuh, hanya ditutup sebagian saja, sebagian lagi dibiar terbuka.Dua opsi (pilihan alternatif) yang dia tawarkan untuk memecahkan masalah Timor Timur yaitu pemberian otonomi khusus di dalam negara kesatuan RI atau memisahkan diri dari Indonesia. Portugal dan PBB menyambut baik tawaran ini. Selanjutnya, perundingan Tripartit di New York pada 5 Mei 1999 antara Indonesia, Portugal dan PBB menghasilkan kesepakatan tentang pelaksanaan jajak pendapat mengenai status masa depan Timor Timur atau United Nations Mission in East Timor (UNAMET).
Jajak pendapat diselenggarakan pada tanggal 30 Agustus 1999 yang diikuti oleh 451.792 orang pemilih yang dianggap penduduk Timor Timur berdasarkan kriteria yang ditetapkan UNAMET, baik yang berada di wilayah Indonesia maupun luar negeri. Hasil jajak pendapat diumumkan pada 4 September 1999 di Dili dan di PBB. Sejumlah 78,5 persen penduduk menolak dan 21,5 persen menerima otonomi khusus yang ditawarkan. Dengan mempertimbangkan hal ini maka MPR RI dalam Sidang Umum MPR pada 1999 mencabut TAP MPR No. VI/1978 dan mengembalikan Timor Timur seperti pada 1975.



BAB III

PENUTUP


 

KESIMPULAN

Di mulai dari kisah visi-misi Amerika Serikat untuk memberangus komunis hingga drama bergabungnya Timor Timur. Dengan penyelesaian masalah Timor Timur memberikan citra positif Indonesia di forum internasional, terlepas dari citra negatif yang datangnya dari kelompok-kelompok penekan untuk menjatuhkan mantan Presiden Habibie dan Indonesia secara ekonomis diuntungkan, sebagaimana kata Andi Yusran (1999: 127) dalam buku karangannya,.”Reformasi Ekonomi Politik”. Dengan lepasnya Timor Timur setidaknnya membawa keuntungan atau kepentingan strategis bagi Indonesia.
Pertama, secara politik, penyelesaian sesegera mungkin secara bijaksana dan bertanggung jawab atas masalah Timor Timur akan memberikan citra positif bagi Indonesia di forum internasional. Kedua, secara ekonomis Timor Timur bukanlah daerah ‘basah’ penghasil devisa negara, sebaliknya Timor Timur justru telah menjadi beban ekonomi bagi pemerintahan Indonesia, PAD sebesar 8 persen dari APBD setidaknya mengindikasikan posisi geo-ekonomi, Timor Timur tersebut minimal membawa konsekuensi ekonomis atas masalah Timor Timur sendiri.
Satu hal perlu menjadi catatan bagi masyarakat Indonesia untuk mempertangguh keintegrasian Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebagian besar suatu anggota masyarakat tersebut sepakat mengenai batas-batas teritorial dari negara sebagai suatu kehidupan politik dalam mana mereka menjadi warganya dan apabila sebagian besar anggota masyarakat tersebut bersepakat mengenai sturuktur pemerintahan dan aturan-aturan daripada proses-proses politik yang berlaku bagi seluruh masyarakat di atas wilayah negara tersebut. Hal ini seperti yang dikutip Nasikun (1983) dari Liddle.
Menurut Soleman B. Taneko, SH dalam bukunya yang berjudul, “Konsepsi Sistem Sosial dan Sistem Sosial”, untuk mendukung hal yang penulis maksud di atas diperlukan lima cara antara lain. Pertama, penciptaan musuh dari luar. Kedua, gaya politik para pemimpin. Ketiga, ciri dari lembaga-lembaga politik seperti birokrasi tentara, parpol dan badan legislatif. Keempat, ideologi nasional dan terakhir kesempatan perluasan ekonomi. Di saat usia Indonesia yang ke-62, semoga bangsa ini tetap utuh dan selalu jaya.








DAFTAR PUSTAKA


Tukan Peter. 2007. Rekonsiliasi yang tidak tuntas DURI KEMERDEKAAN TIMOR TIMUR.Jakarta; Dani Jaya Abadi.
G. Taylor John. 1998. PERANG TERSEMBUNYI Sejarah Timor Timur yang Dilupakan. Jakarta; Forum Solidaritas untuk Rakyat Timor Timur.
http://indonesiatu.blogspot.co.id/2012/08/sejarah-lepasnya-timor-timur-dari-nkri.html